Dengan membaca buku ini anak-anak akan lebih mengenal kebudayaan, tempay, dan kekayaan alam yang ada di seluruh penjurunIndonesia. Selain itu, setiap cerita mengandung pesan moral yang dapat merangsang kecerdasan emosional dan spiritual anak
Bandung Bandawasa diantar ke istana Prambanan. Setelah memasuki istana keputren, ia melihat Dewi Roro Jonggrang yang cantik jelita, Bandung Bandawasa jatuh cinta kepada Dewi Roro Jonggrang dan ingin memperistrinya
Setelah Nawang wulan tiba di rumah, ia membuka tutup kukusan. Setangkai padi masih tergolek di dalam kukusan nasi itu
Pada suatu hari, Joko Kendil mendengar kabar bahwa Raja sedang mencari menantu. Joko Kendil ingin menikah dengan salah satu putri Raja. Ibunda Joko Kendil pun sangat kaget, mendengar pernyataan Joko Kendil
Pada suatu hari yang cerah, dan seorang nenek yang sedang jalan-jalan di pantai. Secara tidak sengaja ia melihat seekor keong emas
Pada zaman dahulu, hiduplah dua saudari bernama Kadru dan Winata. Kandru memiliki anak berupa naga seribu jumlahnya, sementara Winata dianugerahi dua orang anak berupa burung. Suatu hari, mereka membuat taruhan tentang warna ekor kuda Ucchaisrawa. Siapa pun yang kalah harus menjadi pelayan bagi pemenang. beserta anak-anaknya. Namun, karena takut kalah, salah satu dari mereka berbuat kecurangan.…
Ia melawan Yuyu Kangkang dengan Sada Lanang. Akhirnya, Yuyu Kangkang pun kalah
Dongeng pangeran dan putri pada buku ini dirangkum dari banyak negera. Gambar dan cerita pada buku ini akan sangat menarik
Bawang Putih tidak pernah sekalipun mengeluhkan nasib buruknya. Ia selalu siap sedia melayani sang Ibu Tiri dan saudari tirinya dengan senang hati. Pada suatu hari Bawang Putih tengah mengerjakan pekerjaan rumah mencuci pakaian milik Ibu tiriny dan Saudari tirinya. Akan tetapi Bawang Putih tak menyadari bahwa sehelai kalin milik Ibu telah hanyut terbwa arus sungai
Secepat kilat Gatotkaca melesat terbang ke angkasa. Para Kurawa terbengong melihat kehebatan baru yang kini dimilki putra Pandawa itu. Mereka berduyun-duyun masuk ke dalam istana dengan langkah kaki tak segagah tadi. Banyak diantara mereka meringis kesakitan, mengaduh sambil memegangi bagian-bagian tubuh yang terkena pukulan dan tendangan Gatotkaca. Dursasana dan Patih Sengkuni memegangi tangan…